beritadunesia-logo

Taman Nasional Lorentz

\"objek-2-komodo1.jpg\"

Taman Nasional Lorentz merupakan taman nasional yang terletak di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, Indonesia. Kawasan ini semula berstatus cagar alam, namun seiring dengan dikeluarkannya SK. Menteri Pertanian No. 44/Kpts/Um/I/1978, kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional seluas 2.150.000 hektar. Pada tahun 1997 Taman Nasional Lorentz ini diperluas menjadi 2.505.600 hektar, sesuai dengan SK Menteri Kehuntanan No. 154/kpts-II/1997. Pada tahun 1999, oleh Menteri Kehutanan Taman Nasional Lorentz disetujui menjadi salah satu dari tiga situs warisan dunia di Indonesia, setelah Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Ujung Kulon (Provinsi Banten).

Kawasan Taman Nasional Lorentz sendiri, secara administratif meliputi 3 kabupaten di Provinsi Papua yakni, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Paniai, dan Kabupaten Merauke. Sementara pada bagian Barat kawasan ini, merupakan bagian dari Kabupaten Fak-fak, Provinsi Papua Barat, Indonesia.

Keragaman flora di kawasan ini, diikuti dengan keragaman fauna juga dipaparkan, di kawasan ini terdapat sekitar 42 spesies mamalia, yang sebagian besar merupakan hewan langka, dan dua di antaranya merupakan spesies baru. Mamalia yang ada di kawasan ini antara lain, kangguru pohon, landak irian, tikus air, walabi coklat, dan kuskus totol. Selain itu, kawasan ini juga dihuni oleh sekitar 45 jenis burung, salah satu yang paling terkenal dan langka adalah Cendrawasih. Sementara itu, diperkirakan terdapat lebih dari 1.000 spesies ikan, diantaranya adalah ikan kaloso atau yang populer dengan nama ikan arwana.

Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, keunikan lain dari Taman Nasional Lorentz adalah keberadaan gletser di puncak Gunung Jayawijaya. Di Indonesia, gletser seperti ini hanya terdapat di Taman Nasional Lorentz. Di sekitar kawasan gunung Jayawijaya ini pula, terdapat tiga buah danau besar, yakni Danau Larson, Danau Dyscovery, dan Danau Hoguyugu.

Wisatawan yang mengunjungi kawasan taman nasional ini, tidak hanya dapat menikmati keindahan alam saja, namun juga dapat menikmati wisata budaya. Kawasan ini juga merupakan tempat bermukirn suku Nduga, suku Dani Barat, suku Asmat, suku Sempan, dan suku Amungme. Berdasarkan perkiraan Dephut, kebudayaan masyarakat yang bermukim di kawasan ini telah ada sejak sekitar 30.000 tahun yang lalu.

 

 

Sumber : Buku Informasi Pariwisata Nusantara Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia